Postingan

Teman Kurnut

Gambar
Pada hari sabtu dinihari kemarin, setelah aku selesai menulis tulisanku yang berjudul "Jadi Telemarketing? Enggak Diterima", aku teringat akan seorang teman. Sewaktu kuliah kami begitu akrab layaknya seperti saudara. Tiba-tiba ingat namanya, aku baru menyadari bahwa dulu aku punya teman bernama Kurnut (nama samaran). Kurnut itu singkatan dari Kurang Nutrisi. Aku pun berhasrat untuk membuatkan tulisan tentang persahabatan kami namun tak kunjung aku mulai hingga aku bermimpi tentang dia tadi pagi. Gara-gara memimpikan dia aku jadi terbangun. Ada perasaan geli dalam hatiku karena dia sampai kebawa ke dalam mimpiku. Namun aku agak khawatir juga tentang kabarnya seperti apa saat ini. Sebelum aku ceritakan mengapa retak persahabatan kami, aku ceritakan dulu mimpiku tadi pagi. Mimpinya begini: Di sebuah ibadah di gereja, aku dipilih menjadi pengisi acara. Namun sebelum ibadah dimulai para jemaat yang berdatangan mengobrol satu sama lain. Aku pun ikut di dalamnya. Tiba-ti...

Jadi Telemarketing? Enggak Diterima

Gambar
Jika aku ditanya; sewaktu kuliah, pernah gak membayangkan dunia kerja? Membayangkan disini maksudnya, contoh: kerja di perhotelan itu seperti apa gambarannya, trus kalau kerja di perkantoran seperti apa lagi, dsb. Jawabnya: enggak pernah. Tapi aku punya satu pandangan tentang dunia kerja yaitu sulit mencari pekerjaan. Gara-gara pandangan ini pola fikirku jadi berubah. Bagaimana aku menanggapinya?  Memasuki masa-masa skripsi aku membayangkan (seakan menerapkan) aku sedang kesulitan mencari pekerjaan. Seperti berhalusinasilah ceritanya. Tujuannya adalah mempersiapkan diri terkhusus mental ketika nantinya dihadapkan dengan yang sebenarnya.  Makanya ketika aku sudah lulus kuliah, entah mengapa aku seperti biasa saja menjalani masa pengangguran. Aku merasa seperti sudah melaluinya. Stress ada memang tetapi tidak terlalu signifikan untuk mempengaruhiku agar pindah keyakinan, terjerumus pergaulan bebas, menjadi perampok dsb. Tak jarang orangtuaku berkata gak wajar orang s...

Kek Gak Normal Aku Hari Inilah...

Gambar
Berawal dari bangun pagi jam 7. Aku keluar cari sarapan. Aku malah makan nasi uduk. Tumben-tumben-nya aku makan nasi uduk. Trus sudah setahun kalau aku sarapan itu makan roti aja. Kali ini beda. Pulang ke kos tidur lagi. Target bangun jam 9.30. Mau ibadah jam 10 rencananya ke GMI. Ternyata bangun jam 9.50. Tidak terkejar lagi ke gereja. Aku ganti rencana ibadah jam 12 saja ke HKBP Padang. Jam 10.30 aku pergi ke sekre Perkantas Padang untuk donor darah. Ini pertama kalinya aku donor darah. Apa yang kurasakan saat donor? Jujur aja, aku deg-deg-an saat darahku disedot. Mengapa? Bukan untuk merendahkan perawat yang menanganiku. Saat darahku disedot, si perawat sambil telfonan. Aku merasa seperti pertama kalinya dibonceng naik sepeda motor oleh orang yang tidak kukenal, lalu orang yang bawa motor sambil bawa motor sambil telfonan. Kamu tahu apa maksudku kan... Tapi puji Tuhan semuanya lancar. Habis donor, aku makan 1 cup bubur kacang ijo yang disediakan panitia penye...

INGIN DITONTON SATU KECAMATAN

Gambar
Saat aku duduk di Sekolah Dasar (SD) aku lupa entah aku sudah kelas 3 atau kelas 4 saat itu, pas upacara 17 Agustus di lapangan Kec. Sipahutar, aku sangat senang mendengar nama ayahku dipanggil ke depan karena ayah dinobatkan sebagai petani terbaik. Ayah sukses dengan cabe merahnya. Aku sangat bangga melihat ayah maju ke depan ditonton orang satu kecamatan. Melihat hal itu timbullah dalam hatiku ingin seperti ayah memenangkan sesuatu sehingga dipanggil ke depan saat 17 agustus dan ditonton banyak orang. KELAS V Kesempatan pertama terbuka ketika aku duduk di kelas V SD. Saat itu aku mewakili SD kami untuk ikut olimpiade Mate-matika antar SD tingkat kecamatan. Olimpiadenya memakai ujian tertulis. Hasilnya: Ada satu peserta yang bisa menjawab semua soal dengan benar. Dia pun langsung dinobatkan sebagai juara 1. Ada 4 peserta yang hampir menjawab semua soal dengan benar. Hanya 1 soal yang salah. Diantara ke-4 peserta itu adalah aku. Untuk mendapatkan peringkat kedua dan ketiga ...

Mengapa Harus Berdoa?

Gambar
Di awal bulan 4 kemarin aku ingin menulis dua pengalamanku tentang doa tetapi aku tidak percaya diri menulisnya. Dalam minggu ini, pengalamanku tentang doa bertambah satu lagi. Aku jadi percaya diri untuk menulis ini. Kisah Pertama. Bekerja di Rentokil dan harus tinggal di Padang ini adalah diluar dugaanku. Itulah mengapa di awal-awal adaptasi di Padang ini aku merenungkannya dan bertanya-tanya dalam hati. "Tuhan, aku senang dan bersyukur mendapatkan pekerjaan ini dan aku merasa nyaman di Padang ini. Tetapi mengapa Engkau memberikan pekerjaan ini dan menempatkan aku disini padahal aku tidak ada memintanya kepada-Mu?" Dalam perenungan itu, yang datang ke fikiranku ialah sebuah kejadian yang terjadi kira-kira 2 minggu sebelum aku ke Padang. Kejadian itu di pagi hari. Aku yang saat itu tinggal di rumah keluarga, di Pekanbaru, seperti biasa aku pergi mengambil air minum ke sumur kecil di samping rumah orang Cina. Sumur itu dibangun oleh orang Cina (pemiliknya) untuk m...

Si Sesuatu

Gambar
Baru-baru ini aku merasakan bahwa Tuhan bekerja untukku. Aku takjub. Boleh aku katakan bahwa kejadian ini menjadi pengalaman pertamaku menyadari bahwa ketakjuban ini datangnya dari Tuhan. Aku berkata ini pengalaman pertamaku bukan bermaksud menyangkal diri seolah-olah melemahkan imanku selama ini atau malu mengakui bahwa aku anak dari seorang sintua dan aktif di komunitas Kristen. Aku mengatakan begitu karena aku tahu kualitas kekristenanku sebelum-sebelum ini. Kuharap saudara mengerti😃. Delapan bulan yang lalu, aku merasakan sesuatu. Lalu aku mengingininya. Untuk memulai mendapatkannya aku sering mendoakannya. Memang tidak setiap hari aku mendoakannya tetapi jika ditanya apa yang sering aku doakan selama 8 bulan ini, jawabannya ialah mendoakan si sesuatu itu. Di tengah pergumulan itu, aku tidak percaya diri dengan apa yang kudoakan itu. Di saat kejadian itu dihadapanku ada pilihan -sama dengan si sesuatu- yang terlihat sangat mudah aku dapatkan tanpa harus mendoakannya l...

BRAVOD

Gambar
Kisah ini bercerita tentang seorang anak yang menuruti keinginan orangtuanya. Bravod ingin kuliah dengan jurusan matematika tetapi ayahnya meminta dia mengambil jurusan yang berkaitan dengan pertanian. Bravod begitu menghormati ayahnya lalu dia mengambil jurusan Agribisnis. Pagi Hari Di dapur ibu sedang memasak sup ayam spesial. Menu lauk kali ini spesial ibu masak untuk aku karena hari ini menjadi hari terakhirku di rumah sebelum pergi keluar kota. Di luar kota aku diterima di salah satu universitas besar dengan jurusan Agribisnis. Tanpa ayah minta sebenarnya, ibu sudah merencanakan sebelumnya dan telah mempersiapkan segala bumbu yang diperlukan untuk memasak makanan kesukaanku yaitu sup ayam spesial. Namun ayah tetap memintanya. Pada malam sebelumnya, sebelum tidur ayah meminta ibu untuk memasak makanan kesukaanku hari ini. Pagi itu, ayah yang baru selesai membaca koran di teras rumah memperhatikan bahwa batang hidungku belum juga kelihatan. Ayah bertanya dimana keberad...